Eko Prasetyo W
Salam hangat dari teman lama.

Kenangan itu banyak, kenangan itu kadang mulai dari awal bukan akhir. kalau dimulai dari akhir artinya perpisahan.

Hari ini baru aja liat facebook dan liat beberapa foto kenangan waktu masih semester 1 di jurusan B.Inggris. Yah kadang ada beberapa kenangan disana, ada juga canda tawa dan yang paling diinget itu sebuah temen yang saling bantu. semua saling bantu. jujur gue gak bisa B.Inggris, tapi banyak dari temen temen B.Inggris yang bantu gue sampe semester 2 buat dapetin nilai bagus. mmm cuma karena bantuan mereka gue bisa dapet nilai rata2 B lah dan akhirnya saatnya gue pindah ke jurusan komunikasi.

Kangen juga kalau dirasa rasa dengan masa masa pertama masuk kuliah, semua seru dan sekarang semua sudah pada melanjutkan kejenjang selanjutnya. mereka sudah pada lulus, sudah dapat pekerjaan, sudah ada yang menikah dan juga mungkin udah ada yang jadi pengusaha dan mungkin masih ada yang nunggu kerjaan (nganggur). entahlah. tapi gue bangga pernah kenal dengan temen temen dari B.Inggris yang seru.

Kalau dibayangin kaya pohon pisang mungkin pertama cuma tunas, eh terus ada yang nyiram, jadi deh pohon pisang yang besar dan akhirnya berbuah. setelah berbuah dan matang pada pohonnya, buahnya pun dipetik dan akhirnya dimakan atau dijual lagi dan yang tersisa adalah tunas muda yang terus tumbuh. dan itu gue..



Gadis Metropolitan.

2 tahun setelah kepergiannya, kini dia pulang. Berkelana katanya ke ibukota untuk mencari sesuap nasi dan juga beberapa lembar kertas yang bernilai yang disebut uang. Perjalanannya memang baru sebentar, tak lama seperti orang orang lain dari kampungku yang telah merantau sebelumnya. Sepulangnya dari ibu kota, dia sangat terlihat berbeda. Anting yang bergelantungan di telinganya terlihat seperti gelang, kalung yang dipakainya terlihat seperti rantai kapal dan muka yang dahulu ku ingat seperti si iteng pada film kabayan kini berubah. Lebih terlihat seperti sahrini dengan tumpukan tepung terigu dimuka, itu bedak.

Yang aku ingat saat kepergiannya 2 tahun lalu, dia sempat berpamitan denganku. Dia meminta izin untuk bertarung dan ingin menaklukan ibu kota. Dia ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik dibandingkan untuk tetap tinggal dikampung yang setiap harinya hanya dapat memakan tempe dan tahu. Apabila ada kumpul-kumpul para warga, barulah kita menikmati hindangan yang begitu nikmat seperti daging kambing, sapi, ayam dan hewan hewan ternak yang disumbangkan warga untuk pesta rakyat itu. Itupun dilakukan hanya setahun sekali, jadi kita hanyak bisa makan enak sekali dalam setahun, sisanya kita hanya bisa makan seadanya saja.

Dia kembali, dia pulang, dia datang.

Tidak hanya datang dengan anting, kalung dan gelang yang berkilau saja. Dia membawa sebuah mobil mewah, mobil yang kilaunya membuat mataku tak ingin melewatkannya. Mobil berwarna hitam elegant dengan seorang supir yang menggunakan seragam hitam gagah dengan badan yang sangat besar. Aku pikir itu bukan hanya sekedar supir tapi juga mungkin bodyguard.

Dia berjalan, dia melangkah, menghampiriku.

Dia datang padaku, sambil melemparkan senyumnya yang sekarang sudah seperti parit yang sangat tajam yang dilumuri darah, sama seperti bibirnya yang sudah berwarna merah. Padahal dulu bibirnya pecah pecah.

Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat.

Akhirnya tepat didepan mata, seorang gadis manis, lugu dan polos yang pernah ada kini berubah menjadi monster mall. Lihat saja semua yang dipakai, semua barang bermerk, semua tidak dibeli dipinggiran jalan dan tak mungkin dia mandi dengan air sungai seperti dulu, mungkin sekarang dia sudah mandi dengan susu atau madu.

Masih tersenyum dihadapanku..

Tanpa sadar badanku ini terasa seperti dipakaikan selimut, sangat hangat. Selimut yang berbau harum. Bukan, ini bukan bukan selimut. Ini adalah dia yang baru saja kembali dari ibu kota yang memelukku. Dia mencengkramku dengan sangat kencang dan tiba tiba terasa ada air yang mengalir dipundakku. Hujan kah ? ternyata itu air matanya yang jatuh dipundakku. Tanpa kata kita dia masih memelukku dan tanpa suarapun aku masih dipeluknya. Sampai akhirnya dia melepaskan pelukannya dari tubuhku. Dia masih tetap menangis, terus menangis. Tangisannya mendalam, tangisannya menganak sungai, tangisannya seperti tak bisa terhenti terus mengalir, jatuh dari mata turun kepipinya. Apa yang terjadi ?

Dengan polos kutanyakan mengapa dia menangis, apa kau tak senang setelah pergi dari kampung ini dan pulang dengan apa yang kau impikan ?  

Akhirnya suaranya keluar juga, suara kecil yang diiringi dengan isakan itu akhirnya berkata kata.

Dia kembali bukan untuk pulang, dia kembali hanya untuk menanyakan sebuah pertanyaan padaku apakah aku sudah menikah ? apakah aku sudah berkeluarga ? apakah aku sudah memiliki anak ?

dan jika itu semua belum terjadi, niatnya adalah mengajakku pergi dengannya ke ibu kota. Menikah dengannya seperti apa yang telah ia janjikan padaku saat terakhir kali kita bertemu saat ia pamitan. Dia berjanji akan pulang setelah ia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kejadian pada saat itu indah, aku seperti seorang yang ingin dibuktikan cintanya oleh seorang gadis yang akhirnya pulang untuk menepati janjinya.

Yah, aku sudah menikah dan dikaruniai seorang anak dengan seorang istri yang sangat cantik dari desa ini. Aku tidak menepati janjinya, aku berdosa.

Dia terus menangis, dia menamparku dengan sangat kencang. Darahpun akhirnya muncul dari hidungku. Dia berteriak keras memaki makiku, terus menamparku lagi dan lagi. Dan akhirnya dia pun pergi.

Ternyata selama 2 tahun ini dia pergi ke ibu kota hanya untukku. Untuk membuatku bahagia dengannya, tapi di ibu kota dia tidak pernah mendapatkan pekerjaan dengan hanya berijasah SD saja dan akhirnya memutuskan untuk menjual dirinya kepada para lelaki hidung belang dan pulang kehadapanku tanpa rasa dosa.


Banyak anak yang saat masih kecil ingin jadi dokter, polisi, presiden atau apalah tentang profesi yang terlihat keren. semua orang juga ingin jadi begitu ? itu harapan, cita cita atau bualan ?

Pada akhirnya mereka akan menjadi diri mereka sendiri.


Diam bukan berati emas dan emas tak selalu diam.

ini ve jadi mirip kaya mariko kalau rambut begini.

ini ve jadi mirip kaya mariko kalau rambut begini.


Berjuanglah, dik.

Jangan lihat kakakmu yang seperti ini, yang selalu berada dibawah ketiak mamah kita. Coba kau lihat diluar sana dik, banyak yang bermimpi untuk menjadi orang yang hebat. Seperti menjadi pilot, masinis dan Presiden. Presiden itu adalah cita cita dari semua anak dik, kau punya cita cita bukan ? apa cita citamu ? waktu kakakmu masih kecil ini, kakakmu ingin sekali menjadi polisi seperti bapak kita. Polisi itu terlihat keren saat kita masih kecil. Terlihat gagah berani dengan seragam dan lencananya, apalagi saat melihat senjata yang mereka miliki. Ah aku ingin sekali menjadi seorang polisi waktu itu, tapi waktu tak bisa membohongi. Kakakmu dulu pernah ikut tes masuk kepolisian, tapi sayang semua itu Cuma mimpi dik. Walau kakakmu gagal menjadi polisi semoga kamu bisa yang meneruskan impian bapak kita dik. Dari dulu bapak kita ingin sekali anak anaknya sukses, walaupun tak menjadi seorang polisi tetapi dia ingin salah satu dari kita meneruskan perjuangannya. Sering sekali bapak selalu berkata “belajarlah, agar nanti kau menjadi seorang yang hebat, jangan seperti bapakmu ini”

Lihat kakakmu sekarang, hanya berdiam diri dirumah. Tak ada pekerjaan, tak ada kegiatan, dan tak ada yang memperdulikan. Hidup seperti ditempat kos walau ini adalah rumah itu tak enak dik. Rumah seperti tempat kos itu menyedihkan dik. Setiap kepulangan kita jarang sekali disambut dengan senyuman dan terkadang tak diperdulikan begitu saja seperti mainan yang rusak lalu dibuang. Selagi kau bisa, kejarlah mimpimu dik. Kakakmu ini juga masih terus mengejar mimpinya walau entah harus dimulai dari mana.


Gelisah

Selamat malam wahai gadis penjual jamu. saya tahu hidupmu begitu sulit, sama seperti saya. apa kau pernah merasakah gelisah saat pelangganmu mencaci makimu hingga air suci dari mulutnya tumpah padamu ? apa kau marah ?

hidupmu berat diluar sana bukan ? setiap hari harus menggendong botol botol jamu dan berkeliling untuk menjajakannya. apa kau pernah merasa lelah ?

kau berteriak teriak bukan untuk mendapatkan pelanggan dan agar pelanggan tau bahwa kau sedang berada disekitar mereka untuk menawarkan jamumu itu. mungkin suaramu serak saat berteriak itu ? mungkin jika saat itu saya ada disana, mungkin saya akan membeli jamu darimu.

Ada satu jamu yang ingin saya minum dari jamu buatanmu yang special itu. sebuah jamu untuk menghilangkan nyeri nyeri ini. Sudah lama juga nyeri ini tak hilang, terkadang hilang karena saya lupa dan kadang juga kambuh ketika saya ingat. apa kau punya jamu untuk menghilangkan nyeri ini ?

yah, kamu seharusnya punya jamu itu. Jamu untuk menghilang nyeri-nyeri masa lalu ? apakah kamu punya, gadis penjual jamu ? atau mungkin bukan jamumu yang akan menyembuhkan nyeri ini, melainkan kau sendiri yang membantuku menghilangkan rasa nyeri ini. saya berharap kamu, bukan jamumu..


kembali kesekolah. kenapa kembali kesekolah ? yah karena kali ini dapet event di sekolah, event pensi dari SMA 3 Kota Serang. Berasa udah lama banget gak ke sekolah, kalau kaya gini sih jadi inget inget kisah kasih disekolah gitu haha..

ya tanggal 21 Desember ini "Sunday With My Girlfriend" bakal ngisi acara di pensi sekolah gitu. tuh liat aja namanya “SWMG” diflyer, tapi kenapa itu guest namanya disingkat singkat atau mungkin dipapas karena namanya terlalu panjang cyaaat.

Sampai bertemu tanggal 21 Desember^^


Art Of Kamen Rider Kuuga

Art Of Kamen Rider Kuuga